LAPORAN SURVEI SASTRA
DAERAH II
“NYANYIAN RAKYAT” NEGERI
WAKASIHU
KECAMATAN LEIHITU BARAT
KELOMPOK VII
Siti
Nur Mandar ( 2008-35-062 )
Marlin
Mual ( 2008-35-055 )
Harsa
Lesi ( 2008-35-056 )
Abraham
Sarapil ( 2008-35-034 )
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2012
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Foklor adalah kekayaan dan jati diri setiap daerah yang
masih melekat dengannya. Melalui foklor yang dimiliki oleh suatu daerah
tertentu sebagian maupun kebanyakan orang akan lebih mengenal
kelebihan-kelebihan dan keunikan daerah tersebut. Folklor (Inggris folklore) berasal dari
dua kata dasar folk dan lore. Folk adalah sekolompok orang
yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat
dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Sedangkan lore adalah tradisi folk,
yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secara
lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat
pembantu pengingat/memoric device (Alan Dundes).
Folklor adalah sebagian kebudayaan
suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif
macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk
lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu
pengingat. Cakupan tradisi lisan sangat kecil hanya berupa cerita rakyat,
teka-teki, peribahasa, dan nyanyian rakyat (James Danandjaja)
Seperti halnya daerah-daerah lain di kawasan Nusantara,
daerah-daerah atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Negeri” di kawasan
Pulau Ambon juga masih melekat dengan foklor, salah satunya adalah Negeri Wakasihu
yang terletak di Kecamatan Leihitu Barat. Negeri Wakasihu masih memiliki ketiga
jenis foklor berdasarkan tipenya, yakni: foklor lisan, foklor sebagian lisan,
foklor bukan lisan. Guna pelestarian dan inventarisasi foklor inilah maka
diadakan Survei Sastra Daerah. Kegiatan survei ini hanya mengkaji foklor lisan
dan salah satu jenisnya, yaitu: “Nyanyian Rakyat”, yang ada di
Negeri Wakasihu.
Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan
kegiatan survei sastra daerah ini adalah: Mendapatkan sebanyak munngkin foklor
lisan Negeri Wakasihu (nyanyian rakyat).
Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari
kegiatan survei sastra daerah ini adalah :
1.
Bagi mahasiswa,dapat mengetahui
sekaligus menambah wawasan/pengetahuan tentang nayian rakyat yang terdapat di
Negeri Wakasihu.
2.
Bagi mAsyarakat Negeri wakasihu, menjadi
referensi bersama guna pelestarian budaya daerah, khususnya nyanyian rakyat
yang mempunyai peran penting dalam acara-acara adat, mengingat budaya ini
hampir punah termakan perkembangan zaman dan berkurangnya para tua-tua adat
sebagai nara sumber yang masih memahami dan mengetahui.
3.
Bagi guru dan dosen, hasil survei ini
dapat dijadikan referensi ilmu pengetahuan budaya daerah, yang kemudian dapat
diajarkan kepada peserta didik.
Waktu Kegiatan
Kegiatan survei ini
dilaksanakan dalam kurun waktu tiga (3) hari, mulai tanggal 15-17 November
2012, dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
1.
Menyampaikan surat permohonan ijin
penelitian kepada Pimpinan Negeri Wakasihu.
2.
Menemui nara sumber terpercaya dan
menentukan waktu wawancara
3.
Melakukan wawancara dan dokumentasi.
4.
Menyampaikan ucapan teima kasih kepada
pimpinan, staf, dan nara sumber yang telah bersedia menerima serta memberikan
berbagai informasi mengenai objek kajian yang diteliti.
PEMBAHASAN
Profil
Negeri Wakasihu
Negeri wakasihu yang dalam bahasa
aslinya disebut “ Hena Wa’asihu” adalah sebuah negeri yang diapit oleh dua
negeri lainnya, yakni Negeri Larike di sebelah Utara dan Negeri Alang di
sebelah Selatan, membujur dari Utara ke Selatan dengan panjang 1 km dan lebar
75 m. Sempitnya Negeri Wakasihu ini disebabkan terus terjadinya abrasi sebelum
adanya pembanguna talit penahan ombak. Sebelah barat negeri ini membentang laut
biru, sedangkan sebelah Timur berbatasan dengan hutan belantara dan bukit yang
menjulang tinggi. Jumlah penduduk negeri ini sekitar 6000 orang, berdasarkan
data sensus penduduk tahun 2000. Mata pencaharian penduduk di negeri ini
umumnya adalah petani, dan sebahagiannya nelayan. Ciri khas kehidupan bermasohi
senantiasa nampak dalam keseharian hidup penduduk negeri ini. Negeri wakasihu
merupakan negeri penghasil cengkeh dan pala serta hasil-hasil hutan yang tumbuh
subur. Negeri ini terbagi atas tiga soa yaitu soa seletou ( mundur sampai penuh
), soa Pahulimatou (masuk sampai penuh), dan soa Tapue (Mundur jauh). Selain
itu Negeri ini juga kaya akan budaya serta adat istiadat dan tradisi yang masih
kental dikalangan masyarakat secara turun temurun dari para leluhur mereka.
Salah satunya negeri ini memiliki lagu-lagu daerah yang dimulai sejak dulu sebelum
abad ke-14 (abad sebelum masuknya islam diMaluku).
Nyanyian
rakyat negeri wakasihu terbagi atas tiga jenis nyanyian, yakni :
Kapata
Nyanyian ini merupakan nyanyian
yang mengisahkan terjadinya suatu kejadian, merupakan nasihat yang ingin
disampaikan turun-temurun, berupa syair singkat yang dinyanyiakn.
Lani
Nyayian ini merupakan bentuk kapata yang
khusus dinyanyikan hanya pada saat acara adat istiadat misalnya pelantikan
raja, upacara arohai, arohai hina penerimaan tamu dengan kora-kora, malotita (cakalele),
dan lalahata (kain gendong). Nyanyian ini hanya dinyayikan oleh orang-orang
tertentu,yang mempunyai peranan dalam acara adat dimaksud, disebabkan nyanyian
ini menggunakan bahasa tanah (bahasa orang tua-tua dulu) yang hanya
dikuasai oleh orang-orang tetentu saja.
Oa
Nyanyian dinyanyikan saat acara pernikahan, juga
merupakan nyanyian hiburan
Berikut adalah nyanyian-nyanyian yang diperoleh
melalui survey sastra daerah :
“Nyanyian
Kapata”
Waya-Waya
e
Yupuo
yupu ama waluweee
Waya-wayaee
Letehina
weiniaeee
Barakate
laha tala laniteee
Barakate
latu telua lete muli a ee
Wayatasi
molo sala ee
Bakumpul
Dalam Satu Ikatan
Bapa-bapa
dinegeri dalapan
Bapak-bapak di negeri delapan
Bakumpul
dalam satu ikatan
Berkumpul dalam satu ikatan
Dinegeri
ular melingkar
Di negeri ular melingkar
Berkah
Allah Ta’ala di langit
Berkat Allah di langit
Berkah
tiga raja di belakang
Berkat tiga raja di belakang
Sapa
yang menyendiri dia salah sandiri
Siapa yang menyendiri itu salahnya sendiri
Nyanyian
ini merupakan nasihat kepada anak cucu Negeri bahwa berkumpul dalam satu ikatan
dan tak boleh terpisahkan, yang memisahkan diri dari negeri maka akan
menanggung akibatnya sendiri.
I
Parenta Hena Helua
Pesi rulu nau jarinu
laute taloto
Koli rulu yuha niha
hesia
Koli pali i a lato
I parenta hena helua
Ia
Perintah Negeri Baru
Pesi (Latunusahukul)
turun dengan jaringnya ka laut
Pesi
(Latunusakulu) turun dengan membawa jarring ke laut
Koli (Nahukoli) bawa
alat mengail
Koli (Nahukoli)
membawa alat pancing ikan.
Koli dapa tangkap
ikan lato
Koli berhasil
menagkap ikan lato
Dia parenta negeri
baru
Ia pemimpimpin
negeri yang baru
Kapata
ini sewaktu Nahukolia (Raja Negeri Wakasihu pertama) berhasil memenagkan
sayembara menangkap ikan lato sebagai persyaratan untuk menjadi pemimpin
negeri.
Hiti
ia-ai Laha loi
Hiti ia-ia laha loi
yupu latu Polanunu
Hiti ia-ia laha loi
ye yupu latu Polanunu
Perintah Dengan Baik, Adil, dan
Bijak
Parenta deng bae,
adil, serta bijaksana Latu Polanunu
Perintahlah dengan
baik, adil, serta bijaksana latu polanunu
Parenta deng baik,
adil, sert bijaksana hae Latu Polanunu
Perintahlah dengan
baik, adil, serta bijaksana wahai latu polanunu.
Kapata
ini dinyayikan kepada raja baru sebagai pesan dan nasehat, sewaktu upacara
lalahata (kain gendong),upacara ini diadakan untuk mengantarkan raja menuju
Teuna Peiloko untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian adat pelantikan.
“Nyanyian
Lani”
Lena Hatu-Wakasihu
Tala hatu rulu ee
Pa a laina Latu
Pessiee
Latu pessi e yumanae
Yumanaie hatu hasa
Sila lulu lei
Sila kekanapo
Nala riuwa riuwa mata
Pela
Hatu-Wakasihu
Kapitang Hatu datang
Kapten Hatu datang
Baku dapa deng Latu
Pesi
Bertemu dengan
Latu Pesi
Baku dapa di satu
tampa
Bertemu di suatu
tempat
Akang pung nama hatu
hasa ( batu goso )
Yang namanya hatu
hasa (batu asah)
Dua kapitang bakalai
Kedua kapitan
berkelahi
Taguling diatas rumpu-rumpu
Tergeletak di
rerumputan
Sampe samua rumpu mati
Sampai semua
rumput mati
Nyanyian ini dinyanyikan oleh
masyarakat Wakasihu saat penyambutan masyarakat Negeri Hatu sebagai Pela.
Eti
Tala Sapalewa
Yupuo-yupu ee
Yupu ama waluw ee
Kolia I hala Mana ee lau
Nunusaku ee
Kolia I hala mana lau
Eti Tala Sapalewa
Moni ihala manaee lau
tetu natee
Mori ralua kata kula
lapunu
Pessia ihala tanda
waila telu
Eti,
Tala, Sapalewa
Bapa-bapa
Bapak-bapak
Bapa-bapa di negeri
dalapan
Bapak-bapak di
negeri delapan
Kolia bawa dari
Nunusaku
Kolia bawa dari
Nunusaku
Kolia bawa lewat Eti
Tala Sapalewa
Kolia bawa
melewati Eti Tala Sapalewa
Kolia berasal dari
tiga mata air (Eti, Tala, Sapalewa)
Kolia berasal dari
tiga mata air (Eti, Tala, Sapalewa)
Moni berasal dari
Tetunate
Moni berasal dari
Tetunate
Mori mangaku
meninggalkan celana
Moni mengakui
meninggalkan celana
Pesi membawa tanda
tiga mata air
Pesi membawa tanda
tiga mata air
Nyanyian ini mengisahkan tentang kaka adik yang membawa
bendera setelah perang dan mony menaruh celana dengan bajunya sebagai tanda dan
pessi membawa bendera yang melukiskan tiga mata air terbuat dari kulit kayu
yang disebut dengan bendera wemper. Sering dinyanyikan untuk menyambut
masyarakat Eti yang merupakan Gandong Wakasihu.
Somba-Somba
Somba-somba
yupu latu daerah
Sapa
horomate yupu yupu oo
Yami
ama Sohulau barasuka ini la i
Hala
kaputusang hiti yamir lato oo
Parenta
hena holua hena wa’asihu oo
Barakata
lahatala laha junjungan yami
Lindong
yami latu polanunu oo
Salamat datang
Salamat
datang bapak kapala daerah
Selamat
dating bapak-bapak kepala daerah
Salam
deng hormat katong par rombongan
Salam
dan hormat kami kepada para rombongan
Katong
sanang bapak su datang
Kami
senang bapak sudah datang
Deng
bawa surat kaputusan angka raja
Dengan
membawa surat keputusan pengangkatan raja
Latu
Polanunu ana Sehulau
Latu
Polanunu anak dari Sehulau
Yang
akan memimpin katong pung negeri Wakasihu
Yang
akan memimpin negeri kami, Wakasihu
Semoga
Tuhan deng Rasul
Semoga
Tuhan dan Rasul
Kasi
perlindungan par katong pung raja
Memberikan
perlindungan untuk raja kami
Nyanyian ini dibawakan oleh ibu-ibu
Sehulau saat menyambut para tamu agung sebagai penghormatan yang mendalam dalam
acara lalahata (kain Gendong).
Ohe Hina
( Marga Tanassy )
Mai mai hinia, Nau
hetiee, Nau haha
Yami yana lepee
Tola hehe kona-konoa
Teuna hehe matasili
Yami sapa hele Upo
Laha Tala ee Lanite
Rulu mai ee
Rezeky ee lepu-lepu
Laha loiee Ohe Hina
Ohe
hina
Mari-mari kamari beta
pangku, beta gendong
Mar-mari kemari
saya pangku, saya gendong
Katong ana dari guru
Kami anak dari
guru
Samua ada dudu
Semua sedang duduk
Dudu di lapangan
matasili
Duduk di lapangan
matasili
Katong minta dari
Allah SWT
Kami minta dari
Allah SWT
Dari Allah Ta’ala
dilangit
Dari Allah di
langit
Kasturung kamari
Turunkan kesini
Rezeky banya-banya
Rejeki
sebanyak-banyaknya
Untuk laha ohe hina
Kepada me-laha ohe
hina
Lagu
Ohe Hina ini biasanya dinyanyikan pada saat acara khusus arohai hina yaitu
suatu prosesi adat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Arohai
merupakan acara khusus yang dimulai pada tanggal 12 Rabiul awal-selesai. Arohai
hina ini dilaksanakan tepat 15 Rabbiul awal dalam kalender Hijriah. Dalam
proses adat ini ada lagu yang dinyanyikan oleh masing-masing marga untuk
menyambut dan me-Laha ( kain yang
disarungkan pada suatu benda ) ohe Hina (tempat bakar maniang yang dibawa
keliling kampung ). Lagu tersebut memiliki lirik yang sama hanya berbeda pada
nama tugas dan tempat bermusyawarah masing-masing marga. Selain marga Tanassy,
juga dinyanyikan oleh marga Nahukoli, Polanunu, Tuhelelu, Marga Pulipoke, Marga
Tanassy, Marga Hayale, Marga Hupeka, Marga Putun dan Marga Talanaya.
Rey-Reyra
Rei
rei ra jungku rei reira
Hutu
rima, monia jungku rei-rei ra
Jaga
ia ia jaga yupu ia ia
Mayoma
laha mayase jaga yupu ia ia
Tola
mese mese tola yupu mese mese
Jahiti
jaholamo tola yupu mese mese
Nyanyian
ini menggambarkan kedatangan sultan ternate di Negeri Wakasihu untuk
menyebarkan Islam. Lagu ini hanya boleh dinyanyikan oleh anak cucu marga
Tanassy dan tidak boleh dinyanyikan oleh sembarang orang. Saat ini nyanyian
Rey-Reyra dinyanyikan dalam acara penyambutan tamu, yakni dengan menggunakan
kora-kora yang di tumpangi ibu-ibu soa seletou.
“Nyanyian Oa”
Seisini
lete yula hahanea
Runu
mai yaupata enaee
Runu
mai yaupata enaee
Coba-coba
yupulahe yalemu wayahe
Sapa
yang ada diatas gunung
Siapa
yang berada di atas gunung
Coba
turung kasini
Coba
turun ke sini
Coba
turung kasini
Coba
turun ke sini
Coba
turung kasini supaya beta lia ose pung muka labe dekat
Coba
turun kesini agar saya dapat melihat wajahmu lebih dekat
Nyanyian ini merupakan nyanyian
hiburan bagi masyarakat negeri Waksihu ketika kehutan. Nyanyian ini dinyanyikan
sambil melakukan panen cengkih.
Identitas Narasumber
-
Bapak
Put Pessilete
Usia
:
Jabatan
: Tokoh adat
-
Bapak
Hasan Wakasala
Usia
: 61 th
Jabatan
: Saniri Negeri
-
Bapak
Hasan Tanassy
Usia
:
Jabatan
: Sekertaris Negeri
-
Bapak
Ubaid Tanassy
Usia
:
Jabatan
: Guru ngaji
-
Ibu
Caca Tanassy
Usia
: 62th
Jabatan
: Tokoh adat
-
Ibu
Biba Polpoke
Usia
:58
Jabatan
: ketua Dasa Wisma urwa seletou
-
Bapak
Dade Pessilete
Usia
: 37
Jabatan
: tokoh adat ( narasumber gambar )
PENUTUP
Kesimpulan
Negeri Wakasihu dengan
nama aslinya Wa’Asihu ternyata masih tetap melestarikan budaya peninggalan
leluhur mereka, hal ini terlihat jelas dengan masih dipertahankannya sistim
pemerintahan yang dipimpin oleh raja. Upacara-upacara adat terus dipertahankan
dan dilaksanakan hingga saat ini. Nyayian rakyat yang mempunyai peran penting
dalam acara adat tersebut juga masih tetap dinyanyikan. Hal ini membuktikan
bahwa masyarakat Wakasihu begitu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya
peninggalan leluhur. Namun seiring perkembangan zaman ke era modernisasi,
sebagian kalangan muda-mudi generasi penerus warisan budaya leluhur Negeri
Wakasihu kini tidak lagi termotivasi untuk tetap melestarikan budaya leluhur
mereka dengan jalan mempelajarinya. Hal ini tentunya berdampak buruk bagi
kelestarian budaya Negeri Adat Wakasihu.
Saran
Untuk
menghindari dan memperkecil kemungkinan punahnya warisan budaya para leluhur
Negeri Wakasihu di era yang akan datang, maka perlu diambil langkah sebagai
berikut :
1.
Mengajari generasi penerus kebudayaan
negeri sejak usia dini.
2.
Mebekali generasi penerus dengan
pengetahuan akan budaya negeri secara berkesinambungan, agar dapat menekan
pengaruh era modernisasi apabila ia berada di tanah perantauan yang tentunya
tidak lagi mempertahankan adat istiadat dan budaya leluhur.
3.
Nyanyian rakyat dan yang lainnya
hendaknya diajarkan oleh para tua-tua adat kepada generasi muda.
4.
Buatlah referensi sebanyak mungkin
(nyanyian rakyat) dan lainnya, yang kemudian dapat dipergunakan sebagamana
mestinya.
Lampiran gambar :
Ohe hina
saat dibawa memasuki rumah Raja
(gambar diambil pada saat acara
adat arohai hina 07 februari 2012)
(Gambar pakaian perang dalam
lagu”Eti, Tala, Sapalewa”)
(gambar bendera Wempele yang
terbuat dari kulit kayu)
(gambar tiga mata air Eti, Tala,
Sapalewa pada bendera wempele)