Jumat, 17 Februari 2017

Puisi "Jujaro Nusa Laut"



“Jujaro Nusa Laut”

Mencari tapal batas jejak sang penjajah
Jangan ampunkan Martha… jangan
Manusia-manusia tak berhati itu hunus saja tombakmu
Hengkang saja mereka… hengkang saja…
Demi bumi Indonesia
Makhluk  rakus perebut kekuasaan tak pantas disini
Jangan biarkan mereka merampas kekayaan kita
Kau remaja pemberani berhati baja
Jujaro Nusa Laut tak kenal takut
Darah Paulus Tiahahu mengalir dalam denyutmu
Dinadimu teriakkan merdeka
Menghunus mereka yang haus kuasa
Tapiiii sayaang Martha sayaang
Tipu daya mereka menghantam pasukan Pattimuramu
Benang-benang besi itu melilit tubuhmu
Sekali lagi jujaro manis ini tak gentar
Perlawanan terakhir ia salurkan
Hingga maut tak terelakkan
Tapiii kejamm kau Eversten !! kejamm
Raksasa buas berbalut baja
Dengan bengisnya kau lontarkan ia,,, kejamm
Tenanglah Martha sayang tenang,, tidurlah dalam hangat biru laut banda
Akan selalu mengalir jiwa baru penerusmu Jujaro kekar manise
Akan ada Martha muda …ada aku, dia, mereka
Merdeka!!!



                                                                                                            Oleh : Sinurama

Jumat, 10 Februari 2017

Kamut

Kamut

v Kecerdasan merupakan waduk pengetahuan yang masih harus ditimba, bukan  aliran air yang hanya tinggal ditampung (james northtocle)…

v Siapa saja bisa berhasil dilaut yang tenang, tapi kemenangan atas badailah yang mendapat kehormatan sesungguhnya (…)

v Pesona wanita muslimah, terpancar saat ia… menutup aurat..(Sinurama)

v Barang siapa yang hatinya bergetar melihat penindasan maka dialah sahabatku,,,!!! (che)

v Tak akan ada perubahan social tanpa adanya revolusi… (che)

v Rasa kesal… kecewa dan terluka, takkan mengurangi rasa cintaku padamu… ibuu… (mrs T)

v Penampilan merupakan topeng dari wujud sebenarnya… (mrs T)

v Ambisi… sahabatnya keangkuhan (Sinurama)

v Kesalahan merupakan pembelajaran awal dlm meraih sukses… ( Sinurama)

v Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda (…)

v Jangan Berusaha menjadi lebih baik dari orang lain karna sesungguhnya hal itu akan membawamu dekat dengan keangkuhan. Tapi, berusahalah melakukan yang terbaik untuk orang lain, karena akan membuatmu bersahabat dengan kebaikkan… (Sinurama)
v Lidah = ular tak bertulang (petuah)

v Dalam remang-remang senja, aku jiwa yang tertunduk… menghadap sebuah masa, diantara terang dan gelap…(…)

v Keangkuhan ingin selau berada diatas segalanya
Kepalsuan ingin menutupi sgalanya demi kepentingannya
Kesabaran selalu menerima apa adanya
Kebenaran akan selalu berusaha berpihak pada pemiliknya (Sinurama)

v Banyak kegagalan dalam hidup dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya keberhasilan dengan mereka disaat mereka menyerah.. (…)

v Yang terbaik bagi orang lain, belum tentu yang terbaik bagi kita… (mrs T)

v Saat kita berdo’a, lebih baik kita punya hati tanpa kata-kata, daripada punya kata-kata tanpa hati. (…)

v Kenapa kita harus dewasa kalau akhirnya dunia tak lagi sama … ( ost_cinta samadengan cindolo na tape)

v Kesulitan dan pergumulan hari ini adalah harga yang harus kita bayar untuk menuai keberhasilan di hari esok…(sms)raa

v Kekuatan kita diukur bukan saat kita sanggup melakukan pekerjaann berat… tapi saat kita mampu bertahan dalam situasi terberat… (mobile)

v Rasa sayang dan cinta seseorang tidak dapat diukur dari :
-      Seberapa indah dia berkata
-      Seberapa romantic dia berperilaku, atau
-      Seberapa jauh komunikasimu dengannya
Tapi… dari seberapa lama dia bertahan dengan kekuranganmu dan seberapa dalam dia menghormatimu…(mobile)

v Hati akan bergetar kebingungan saat akal bertarung melawan hawa nafsu (Sinurama)

Rabu, 08 Februari 2017

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK PENELITIAN TINDAKAN KELAS



1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Secara singkat PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tinakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki dimana praktek-praktek pembelajaran dilaksanakan.

Menurut John Elliot bahwa yang dimaksud dengan PTK ialah kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya (Elliot, 1982). Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dari perkembangan profesional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart, yang mengatakan bahwa PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta–pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut (Kemmis dan Taggart, 1988).
Menurut Carr dan Kemmis seperti yang dikutip oleh Siswojo Hardjodipuro, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah PTK adalah suatu bentuk refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan (guru, siswa atau kepala sekolah) dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang dilakukan sendiri, (b) pengertian mengenai praktik-praktik ini, dan(c) situasi-situasi ( dan lembaga-lembaga ) tempat praktik-praktik tersebut dilaksanakan (Harjodipuro, 1997).
Lebih lanjut, dijelaskan oleh Harjodipuro bahwa PTK adalah suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut dan agar mau utuk mengubahnya. PTK bukan sekedar mengajar, PTK mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar, dan menggunakan kesadaran kritis terhadap dirinya sendiri untuk bersiap terhadap proses perubahan dan perbaikan proses pembelajaran. PTK mendorong guru untuk berani bertindak dan berpikir kritis dalam mengembangkan teori dan rasional bagi mereka sendiri, dan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan tugasnya secara profesional.

Ada beberapa pengertian PTK, atau Penelitian Tindakan Kelas menurut para ahli, yaitu :
§  Kemmis dan Taggart dalam Kasbolah (1999) mengemukakan  bahwa penelitian tindakan merupakan suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif yang dilakukan oleh pelaku dalam masyarakat sosial dan bertujuan untuk memperbaiki pekerjaannya, memahami pekerjaan ini serta situasi dimana pekerjaan ini dilakukan”.
§  Tim Pelatih Proyek PGSM (Depdikbud, 1993) memberikan pengertian penelitian tindakan sebagai berikut; Penelitian tindakan adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya serta memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan.
§  Menurut Nazir dalam Danim (1997) metode penelitian tindakan adalah suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dengan decision maker tentang variabel yang dapat dimanipulasikan dan dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan dan pembangunan.
§  Tujuan penelitian tindakan menurut Danim (1997:) adalah untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan atau pendekatanpendekatan baru dan untuk memecahkan masalah-masalah sosial dengan aplikasi langsung di ruangan atau pada situasi dunia kerja

Selasa, 07 Februari 2017

Laporan Survei Sastra Daerah



LAPORAN SURVEI SASTRA DAERAH II
“NYANYIAN RAKYAT” NEGERI WAKASIHU
KECAMATAN LEIHITU BARAT




KELOMPOK VII

Siti Nur Mandar          ( 2008-35-062 )
Marlin Mual                ( 2008-35-055 )
Harsa Lesi                   ( 2008-35-056 )
Abraham Sarapil         ( 2008-35-034 )


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2012
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Foklor adalah kekayaan dan jati diri setiap daerah yang masih melekat dengannya. Melalui foklor yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu sebagian maupun kebanyakan orang akan lebih mengenal kelebihan-kelebihan dan keunikan daerah tersebut. Folklor (Inggris folklore) berasal dari dua kata dasar folk dan lore. Folk adalah sekolompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Sedangkan lore adalah tradisi ­folk, yaitu sebagian kebudayaannya, yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat/memoric device (Alan Dundes).
Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Cakupan tradisi lisan sangat kecil hanya berupa cerita rakyat, teka-teki, peribahasa, dan nyanyian rakyat (James Danandjaja)
Seperti halnya daerah-daerah lain di kawasan Nusantara, daerah-daerah atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Negeri” di kawasan Pulau Ambon juga masih melekat dengan foklor, salah satunya adalah Negeri Wakasihu yang terletak di Kecamatan Leihitu Barat. Negeri Wakasihu masih memiliki ketiga jenis foklor berdasarkan tipenya, yakni: foklor lisan, foklor sebagian lisan, foklor bukan lisan. Guna pelestarian dan inventarisasi foklor inilah maka diadakan Survei Sastra Daerah. Kegiatan survei ini hanya mengkaji foklor lisan dan salah satu jenisnya, yaitu: “Nyanyian Rakyat”, yang ada di Negeri Wakasihu.
            Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan kegiatan survei sastra daerah ini adalah: Mendapatkan sebanyak munngkin foklor lisan Negeri Wakasihu (nyanyian rakyat).
Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan survei sastra daerah ini adalah :
1.      Bagi mahasiswa,dapat mengetahui sekaligus menambah wawasan/pengetahuan tentang nayian rakyat yang terdapat di Negeri Wakasihu.
2.      Bagi mAsyarakat Negeri wakasihu, menjadi referensi bersama guna pelestarian budaya daerah, khususnya nyanyian rakyat yang mempunyai peran penting dalam acara-acara adat, mengingat budaya ini hampir punah termakan perkembangan zaman dan berkurangnya para tua-tua adat sebagai nara sumber yang masih memahami dan mengetahui.
3.      Bagi guru dan dosen, hasil survei ini dapat dijadikan referensi ilmu pengetahuan budaya daerah, yang kemudian dapat diajarkan kepada peserta didik.
Waktu Kegiatan
Kegiatan survei ini dilaksanakan dalam kurun waktu tiga (3) hari, mulai tanggal 15-17 November 2012, dengan rincian kegiatan sebagai berikut :
1.      Menyampaikan surat permohonan ijin penelitian kepada Pimpinan Negeri Wakasihu.
2.      Menemui nara sumber terpercaya dan menentukan waktu wawancara
3.      Melakukan wawancara dan dokumentasi.
4.      Menyampaikan ucapan teima kasih kepada pimpinan, staf, dan nara sumber yang telah bersedia menerima serta memberikan berbagai informasi mengenai objek kajian yang diteliti.


PEMBAHASAN

Profil Negeri Wakasihu

Negeri wakasihu yang dalam bahasa aslinya disebut “ Hena Wa’asihu” adalah sebuah negeri yang diapit oleh dua negeri lainnya, yakni Negeri Larike di sebelah Utara dan Negeri Alang di sebelah Selatan, membujur dari Utara ke Selatan dengan panjang 1 km dan lebar 75 m. Sempitnya Negeri Wakasihu ini disebabkan terus terjadinya abrasi sebelum adanya pembanguna talit penahan ombak. Sebelah barat negeri ini membentang laut biru, sedangkan sebelah Timur berbatasan dengan hutan belantara dan bukit yang menjulang tinggi. Jumlah penduduk negeri ini sekitar 6000 orang, berdasarkan data sensus penduduk tahun 2000. Mata pencaharian penduduk di negeri ini umumnya adalah petani, dan sebahagiannya nelayan. Ciri khas kehidupan bermasohi senantiasa nampak dalam keseharian hidup penduduk negeri ini. Negeri wakasihu merupakan negeri penghasil cengkeh dan pala serta hasil-hasil hutan yang tumbuh subur. Negeri ini terbagi atas tiga soa yaitu soa seletou ( mundur sampai penuh ), soa Pahulimatou (masuk sampai penuh), dan soa Tapue (Mundur jauh). Selain itu Negeri ini juga kaya akan budaya serta adat istiadat dan tradisi yang masih kental dikalangan masyarakat secara turun temurun dari para leluhur mereka. Salah satunya negeri ini memiliki lagu-lagu daerah yang dimulai sejak dulu sebelum abad ke-14 (abad sebelum masuknya islam diMaluku).

Nyanyian rakyat negeri wakasihu terbagi atas tiga jenis nyanyian, yakni :

              Kapata
              Nyanyian ini merupakan nyanyian yang mengisahkan terjadinya suatu kejadian, merupakan nasihat yang ingin disampaikan turun-temurun, berupa syair singkat yang dinyanyiakn.
              Lani
               Nyayian ini merupakan bentuk kapata yang khusus dinyanyikan hanya pada saat acara adat istiadat misalnya pelantikan raja, upacara arohai, arohai hina penerimaan tamu dengan kora-kora, malotita (cakalele), dan lalahata (kain gendong). Nyanyian ini hanya dinyayikan oleh orang-orang tertentu,yang mempunyai peranan dalam acara adat dimaksud, disebabkan nyanyian ini menggunakan bahasa tanah (bahasa orang tua-tua dulu) yang hanya dikuasai oleh orang-orang tetentu saja.
              Oa
              Nyanyian  dinyanyikan saat acara pernikahan, juga merupakan nyanyian hiburan







Berikut adalah nyanyian-nyanyian yang diperoleh melalui survey sastra daerah :

“Nyanyian Kapata”

Waya-Waya e
Yupuo yupu ama waluweee
Waya-wayaee
Letehina weiniaeee
Barakate laha tala laniteee
Barakate latu telua lete muli a ee
Wayatasi molo sala ee

Bakumpul Dalam Satu Ikatan

Bapa-bapa dinegeri dalapan
Bapak-bapak di negeri delapan
Bakumpul dalam satu ikatan
Berkumpul dalam satu ikatan
Dinegeri ular melingkar
Di negeri ular melingkar
Berkah Allah Ta’ala di langit
Berkat Allah di langit
Berkah tiga raja di belakang
Berkat tiga raja di belakang
Sapa yang menyendiri dia salah sandiri
Siapa yang menyendiri itu salahnya sendiri

Nyanyian ini merupakan nasihat kepada anak cucu Negeri bahwa berkumpul dalam satu ikatan dan tak boleh terpisahkan, yang memisahkan diri dari negeri maka akan menanggung akibatnya sendiri.

I Parenta Hena Helua
Pesi rulu nau jarinu laute taloto
Koli rulu yuha niha hesia
Koli pali i a lato
I parenta hena helua

Ia Perintah Negeri Baru
Pesi (Latunusahukul) turun dengan jaringnya ka laut
Pesi (Latunusakulu) turun dengan membawa jarring ke laut
Koli (Nahukoli) bawa alat mengail
Koli (Nahukoli) membawa alat pancing ikan.
Koli dapa tangkap ikan lato
Koli berhasil menagkap ikan lato
Dia parenta negeri baru
Ia pemimpimpin negeri yang baru

Kapata ini sewaktu Nahukolia (Raja Negeri Wakasihu pertama) berhasil memenagkan sayembara menangkap ikan lato sebagai persyaratan untuk menjadi pemimpin negeri.

Hiti ia-ai Laha loi
Hiti ia-ia laha loi yupu latu Polanunu
Hiti ia-ia laha loi ye yupu latu Polanunu

Perintah Dengan Baik, Adil, dan Bijak
Parenta deng bae, adil, serta bijaksana Latu Polanunu
Perintahlah dengan baik, adil, serta bijaksana latu polanunu
Parenta deng baik, adil, sert bijaksana hae Latu Polanunu
Perintahlah dengan baik, adil, serta bijaksana wahai latu polanunu.

Kapata ini dinyayikan kepada raja baru sebagai pesan dan nasehat, sewaktu upacara lalahata (kain gendong),upacara ini diadakan untuk mengantarkan raja menuju Teuna Peiloko untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian adat pelantikan.











“Nyanyian Lani”

Lena  Hatu-Wakasihu
Tala hatu rulu ee
Pa a laina Latu Pessiee
Latu pessi e yumanae
Yumanaie hatu hasa
Sila lulu lei
Sila kekanapo
Nala riuwa riuwa mata

Pela Hatu-Wakasihu
Kapitang Hatu datang
Kapten Hatu datang
Baku dapa deng Latu Pesi
Bertemu dengan Latu Pesi
Baku dapa di satu tampa
Bertemu di suatu tempat
Akang pung nama hatu hasa ( batu goso )
Yang namanya hatu hasa (batu asah)
Dua kapitang bakalai
Kedua kapitan berkelahi
Taguling  diatas rumpu-rumpu
Tergeletak di rerumputan
Sampe  samua rumpu mati
Sampai semua rumput mati
            Nyanyian ini dinyanyikan oleh masyarakat Wakasihu saat penyambutan masyarakat Negeri Hatu sebagai Pela.

Eti Tala Sapalewa
Yupuo-yupu ee
Yupu ama waluw ee
Kolia I hala Mana ee lau Nunusaku ee
Kolia I hala mana lau Eti Tala Sapalewa
Moni ihala manaee lau tetu natee
Mori ralua kata kula lapunu
Pessia ihala tanda waila telu
Eti, Tala, Sapalewa
Bapa-bapa
Bapak-bapak
Bapa-bapa di negeri dalapan
Bapak-bapak di negeri delapan
Kolia bawa dari Nunusaku
Kolia bawa dari Nunusaku
Kolia bawa lewat Eti Tala Sapalewa
Kolia bawa melewati Eti Tala Sapalewa
Kolia berasal dari tiga mata air (Eti, Tala, Sapalewa)
Kolia berasal dari tiga mata air (Eti, Tala, Sapalewa)
Moni berasal dari Tetunate
Moni berasal dari Tetunate
Mori mangaku meninggalkan celana
Moni mengakui meninggalkan celana
Pesi membawa tanda tiga mata air
Pesi membawa tanda tiga mata air

            Nyanyian  ini mengisahkan tentang kaka adik yang membawa bendera setelah perang dan mony menaruh celana dengan bajunya sebagai tanda dan pessi membawa bendera yang melukiskan tiga mata air terbuat dari kulit kayu yang disebut dengan bendera wemper. Sering dinyanyikan untuk menyambut masyarakat Eti yang merupakan Gandong Wakasihu.

            Somba-Somba
Somba-somba yupu latu daerah
Sapa horomate yupu yupu oo
Yami ama Sohulau barasuka ini la i
Hala kaputusang hiti yamir lato oo
Parenta hena holua hena wa’asihu oo
Barakata lahatala laha junjungan yami
Lindong yami latu polanunu oo

            Salamat datang
Salamat datang bapak kapala daerah
Selamat dating bapak-bapak kepala daerah
Salam deng hormat katong par rombongan
Salam dan hormat kami kepada para rombongan
Katong sanang bapak su datang
Kami senang bapak sudah datang
Deng bawa surat kaputusan angka raja
Dengan membawa surat keputusan pengangkatan raja
Latu Polanunu ana Sehulau
Latu Polanunu anak dari Sehulau
Yang akan memimpin katong pung negeri Wakasihu
Yang akan memimpin negeri kami, Wakasihu
Semoga Tuhan deng Rasul
Semoga Tuhan dan Rasul
Kasi perlindungan par katong pung raja
Memberikan perlindungan untuk raja kami

            Nyanyian ini dibawakan oleh ibu-ibu Sehulau saat menyambut para tamu agung sebagai penghormatan yang mendalam dalam acara lalahata (kain Gendong).

Ohe Hina
( Marga Tanassy )
Mai mai hinia, Nau hetiee, Nau haha
Yami yana lepee
Tola hehe kona-konoa
Teuna hehe matasili
Yami sapa hele Upo
Laha Tala ee Lanite
Rulu mai ee
Rezeky ee lepu-lepu
Laha loiee Ohe Hina

Ohe hina
Mari-mari kamari beta pangku, beta gendong
Mar-mari kemari saya pangku, saya gendong
Katong ana dari guru
Kami anak dari guru
Samua ada dudu
Semua sedang duduk
Dudu di lapangan matasili
Duduk di lapangan matasili
Katong minta dari Allah SWT
Kami minta dari Allah SWT
Dari Allah Ta’ala dilangit
Dari Allah di langit
Kasturung kamari
Turunkan kesini
Rezeky banya-banya
Rejeki sebanyak-banyaknya
Untuk laha ohe hina
Kepada me-laha ohe hina

Lagu Ohe Hina ini biasanya dinyanyikan pada saat acara khusus arohai hina yaitu suatu prosesi adat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Arohai merupakan acara khusus yang dimulai pada tanggal 12 Rabiul awal-selesai. Arohai hina ini dilaksanakan tepat 15 Rabbiul awal dalam kalender Hijriah. Dalam proses adat ini ada lagu yang dinyanyikan oleh masing-masing marga untuk menyambut  dan me-Laha ( kain yang disarungkan pada suatu benda ) ohe Hina (tempat bakar maniang yang dibawa keliling kampung ). Lagu tersebut memiliki lirik yang sama hanya berbeda pada nama tugas dan tempat bermusyawarah masing-masing marga. Selain marga Tanassy, juga dinyanyikan oleh marga Nahukoli, Polanunu, Tuhelelu, Marga Pulipoke, Marga Tanassy, Marga Hayale, Marga Hupeka, Marga Putun dan Marga Talanaya.

            Rey-Reyra
Rei rei ra jungku rei reira
Hutu rima, monia jungku rei-rei ra
Jaga ia ia jaga yupu ia ia
Mayoma laha mayase jaga yupu ia ia
Tola mese mese tola yupu mese mese
Jahiti jaholamo tola yupu mese mese

Nyanyian ini menggambarkan kedatangan sultan ternate di Negeri Wakasihu untuk menyebarkan Islam. Lagu ini hanya boleh dinyanyikan oleh anak cucu marga Tanassy dan tidak boleh dinyanyikan oleh sembarang orang. Saat ini nyanyian Rey-Reyra dinyanyikan dalam acara penyambutan tamu, yakni dengan menggunakan kora-kora yang di tumpangi ibu-ibu soa seletou.




“Nyanyian Oa”
Seisini lete yula hahanea
Runu mai yaupata enaee
Runu mai yaupata enaee
Coba-coba yupulahe yalemu wayahe

Sapa yang ada diatas gunung
Siapa yang berada di atas gunung
Coba turung kasini
Coba turun ke sini
Coba turung kasini
Coba turun ke sini
Coba turung kasini supaya beta lia ose pung muka labe dekat
Coba turun kesini agar saya dapat melihat wajahmu lebih dekat

            Nyanyian ini merupakan nyanyian hiburan bagi masyarakat negeri Waksihu ketika kehutan. Nyanyian ini dinyanyikan sambil melakukan panen cengkih.














Identitas Narasumber



-          Bapak Put Pessilete
Usia :
Jabatan : Tokoh adat
-          Bapak Hasan Wakasala
Usia : 61 th
Jabatan : Saniri Negeri
-          Bapak Hasan Tanassy
Usia :
Jabatan : Sekertaris Negeri
-          Bapak Ubaid Tanassy
Usia :
Jabatan : Guru ngaji
-          Ibu Caca Tanassy
Usia : 62th
Jabatan : Tokoh adat
-          Ibu Biba Polpoke
Usia :58
Jabatan : ketua Dasa Wisma urwa seletou
-          Bapak Dade Pessilete
Usia : 37
Jabatan : tokoh adat ( narasumber gambar )












PENUTUP
            Kesimpulan
Negeri Wakasihu dengan nama aslinya Wa’Asihu ternyata masih tetap melestarikan budaya peninggalan leluhur mereka, hal ini terlihat jelas dengan masih dipertahankannya sistim pemerintahan yang dipimpin oleh raja. Upacara-upacara adat terus dipertahankan dan dilaksanakan hingga saat ini. Nyayian rakyat yang mempunyai peran penting dalam acara adat tersebut juga masih tetap dinyanyikan. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat Wakasihu begitu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya peninggalan leluhur. Namun seiring perkembangan zaman ke era modernisasi, sebagian kalangan muda-mudi generasi penerus warisan budaya leluhur Negeri Wakasihu kini tidak lagi termotivasi untuk tetap melestarikan budaya leluhur mereka dengan jalan mempelajarinya. Hal ini tentunya berdampak buruk bagi kelestarian budaya Negeri Adat Wakasihu.
Saran
            Untuk menghindari dan memperkecil kemungkinan punahnya warisan budaya para leluhur Negeri Wakasihu di era yang akan datang, maka perlu diambil langkah sebagai berikut :
1.      Mengajari generasi penerus kebudayaan negeri sejak usia dini.
2.      Mebekali generasi penerus dengan pengetahuan akan budaya negeri secara berkesinambungan, agar dapat menekan pengaruh era modernisasi apabila ia berada di tanah perantauan yang tentunya tidak lagi mempertahankan adat istiadat dan budaya leluhur.
3.      Nyanyian rakyat dan yang lainnya hendaknya diajarkan oleh para tua-tua adat kepada generasi muda.
4.      Buatlah referensi sebanyak mungkin (nyanyian rakyat) dan lainnya, yang kemudian dapat dipergunakan sebagamana mestinya.
Lampiran gambar :


Ohe hina saat dibawa memasuki rumah Raja
(gambar diambil pada saat acara adat arohai hina 07 februari 2012)


(Gambar pakaian perang dalam lagu”Eti, Tala, Sapalewa”)

(gambar bendera Wempele yang terbuat dari kulit kayu)



(gambar tiga mata air Eti, Tala, Sapalewa pada bendera wempele)